Senin, 22 Mei 2017

Mengapa wanita disarankan untuk sholat dirumah?

Mengapa wanita disarankan untuk sholat dirumah?

Rafeyfa.com - Banyak teman - teman saudari wanita sesama muslim yang bertanya pada kami,mengapa wanita lebih disarankan bahkan beberapa ulama mengatakan wajib untuk sholat dirumah ketimbang sholat dimasjid?

Akhirnya setelah membaca beberapa sumber referensi terpercaya Rafeyfa group menemukan beberapa hadist shahih yang meng
uatkan pernyataan tersebut.

Humaid As Sa’idi meriwayatkan tentang seorang perempuan yang datang kepada Rasulullah Perempuan itu bertanya:


”Hai Rasulullah, sesungguhny aku sangat senang jika shalat berjamaah denganmu”. Nabi menjawab: ”Aku tau kamu senang shalat berjamaah denganku. Tetapi shalatmu di rumahmu sendiri lebih utama dari pada shalatmmu di kamarmu dan shalatmu di kamarmu lebih utama di banding shalatmu diserambi rumahmu dan shalatmu di serambi rumahmu lebih utama di banding shalatmu di masjidku ini”.

Rasulullah S.A.W bersabda :

”INNA AHABBA SHALAATIL MAR-ATI ILALLAAHI FIIASYADDI MAKAANIN FII BAITIHAA”

Artinya:

“Sesungguhnya shalat seorang wanita yang paling di sukai Allah adalah yang di laksanakan di dalam rumahnya yang gelap”.

Bukan tanpa alasan rasulullah menyuruh para wanita muslimah sholat dirumah saja,manfaat yang diperoleh itu tidak lain adalah guna untuk menjaga agar ketertutupan dirinya sebagai hak yang perlu di jaga.

Demikian kutipan beberapa hadist guna menjawab pertanyaan diatas.


Lalu ada lagi pertanyaan yg menanyakan berapa besaran pahala yg didapat wanita yg sholat sendiri dirumah,apakah lebih kecil dari sholat di masjid?

Berkenaan dengan pertanyaan ini kami memilih satu hadist untuk menjawabnya yaitu :

Diriwayatkan oleh abi daud dari ibnu mas’ud dan riwayat Al hakim dari Ummu salamah. Rasulullah S.A.W bersabda:

”SHALAATUL MAR-ATI WAHDAHAA TAFDHULU ‘ALAASHALAATIHAA FIL JAM’I BIKHAMSIN WA’ISYRIINA DARAJA T AN”.

Artinya:

Shalatnya seorang wanita sendirian menyamai shalatnya dalam berjamaah denga memperoleh dua puluh lima derajat “.

Demikian jawaban atas pertanyaan - pertanyaan yg sering ditanyakan kepada kami,semoga bisa menjawab pertanyaan yg anda miliki.

Apabila anda punya pertanyaan silahkan kirim melalui contact form dilaman kami,insyaallah bila ada kesempatan kami akan menjawabnya melalui artikel selanjutnya.

Minggu, 21 Mei 2017

Sa'id bin Zaid al Adawy RA,Meneladani sikap keberanian serta zuhud beliau

Rafeyfa.comDefinisi dari zuhud adalah suatu sikap/sifat seseorang manusia tidak terlalu mementingkan dunia atau harta kekayaan dan lebih mementingkan kehidupan akhirat,kisah dibawah ini merupakan salah satu referensi sahabat yg terkenal akan sikap zuhudnya.


Sa'id bin zaid al adawy meladani sikap zuhud beliau


Perintah allah yang mengharuskan seorang hamba untuk zuhud terdapat dalam al-Qurán surah Al-Hadid Ayat 23

لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ ۗ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,

Bukan tanpa alasan peringatan itu ada,Nabi Muhammad SAW dalam hadistnya juga bersabda :

.Dari Abu Said al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu , berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di atas mimbar dan kita duduk di sekitarnya, lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya salah satu yang saya takutkan atasmu semua sepeninggalku nanti ialah apa yang akan dibukakan untukmu semua itu dari keindahan harta dunia serta hiasan-hiasannya – yakni bahwa meluapnya kekayaan pada ummat Muhammad inilah yang amat ditakutkan, sebab dapat merusakkan agama jikalau tidak waspada mengendalikannya". 
(Muttafaq’alaih)

Langsung saja baca salah satu kisah tentang zuhud,Selamat membaca  :)

Sa'id bin Zaid al Adawy RA merupakan salah satu orang dari kelompok sahabat yang memeluk Islam pada masa-masa awal, sehingga ia termasuk dalam kelompok as Sabiqunal Awwalun.

Ia memeluk Islam bersama istrinya, Fathimah binti Khaththab,yang merupakan adik dari Umar bin Khaththab. Sewaktu remajanya di masa - masa jahiliah, ia tidak pernah mengikuti perbuatan-perbuatan yang umumnya dilakukan oleh kaum Quraisy, seperti menyembah berhala, bermain judi, minum minuman keras,"main" wanita dan perbuatan dosa lainnya.

Sikap dan pandangan hidupnya ini ternyata diwarisi dari ayahnya, Zaid bin Amru bin Naufal.

Sudah sejak lama ayahnya Zaid bin Amru telah meyakini kebenaran agama Ibrahim, tetapi tidak mengikuti Agama Yahudi dan Nashrani yang menurutnya telah jauh menyimpang dari agama Ibrahim.

Bahkan ayahnya tidak segan mencela cara-cara peribadatan dan perbuatan jahiliah dari kaum Quraisy tanpa ada rasa takut sedikitpun.

Bahkan suatu hari ia pernah bersandar di dinding Ka'bah ketika kaum Quraisy sedang melakukan ritual-ritual penyembahannya, dan ia berkata, "Wahai kaum Quraisy, apakah tidak ada di antara kalian yang menganut agama Ibrahim selain aku??"

Zaid bin Amru juga sangat menentang keras kebiasaan kaum Quraisy mengubur hidup-hidup anak perempuannya, karena dianggap sebagai aib, seperti yang pernah dilakukan Umar bin Khaththab di masa jahiliahnya. ayahnya selalu menawarkan diri untuk mengasuh anak perempuan tersebut. Ia juga selalu menolak memakan daging sembelihan yang tidak disebutkan nama Allah saat penyembelihannya, dan juga penyembelihan untuk berhala-berhala.

Seakan-akan ia memperoleh ilham dari allah, ia pernah berkata kepada sahabat dan kerabatnya, "Aku sedang menunggu seorang Nabi dari keturunan Ismail, hanya saja, rasanya aku tidak akan sempat melihatnya, tetapi saya beriman kepadanya dan meyakini kebenaran yang dibawa olehnya".

Sebenarnya Zaid bin Amru sempat bertemu dengan Nabi Muhammad SAW sebelum beliau dikukuhkan sebagai Nabi dan Rasul, sosok pemuda ini (yakni, Nabi Muhammad SAW) sangat mengagumkan bagi dirinya, di samping akhlaknya yang mulia, pemuda ini juga mempunyai pandangan yang sama dengan dirinya tentang kebiasaan dan ritual kaum Quraisy. Tetapi Zaid meninggal ketika Kaum Quraisy sedang memperbaiki Ka'bah, yakni, ketika Nabi SAW berusia 35 tahun.

Dengan didikan dari ayahnya seperti itulah Sa'id bin Zaid tumbuh menjadi orang dewasa, maka tak heran ketika Nabi SAW menyampaikan risalahnya, ia dan istrinya langsung menyambut seruan beliau. Tak ada sedikitpun ketakutan dan kekhawatiran walau saat itu kaum Quraisy melancarkan siksaan yang tak terperikan kepada para pemeluk Islam, termasuk Umar bin Khaththab, kakak iparnya sendiri yang merupakan jagoan duel. Hanya saja ia masih menyembunyikan keislamannya dan istrinya. Sampai suatu ketika Umar yang berwatak keras itu mengetahuinya juga.

Ketika itu Sa'id dan istrinya sedang mendapatkan pengajaran al Qur'an dari sahabat Khabbab bin Arats,tiba-tiba terdengar ketukan, atau mungkin lebih tepat gedoran di pintu rumahnya. Ketika ditanyakan siapa yang mengetuk tersebut, terdengar jawaban yang garang, "Umar!"

Suasana khusyu' dalam pengajaran al Qur'an tersebut menjadi kacau, Khabbab segera bersembunyi sambil terus berdoa memohon pertolongan Allah untuk mereka. Sa'id dan istrinya menuju pintu sambil menyembunyikan lembaran-lembaran mushaf di balik bajunya. Begitu pintu dibuka oleh Sa'id, Umar melontarkan pernyataan keras dengan sorot mata menakutkan, "Benarkan desas-desus yang kudengar, bahwa kalian telah murtad?"

Sebelum kejadian itu, sebenarnya Umar telah membulatkan tekad untuk membunuh Nabi SAW. Kemarahannya telah memuncak karena kaum Quraisy jadi terpecah belah, mengalami kekacauan dan kegelisahan, penyebab kesemuanya itu adalah dakwah Islamiah yang disampaikan Nabi SAW. Dalam pemikiran Umar, jika ia menyingkirkan/membunuh beliau, tentulah kaum Quraisy kembali tenang seperti semula. Tetapi di tengah perjalanan, ia bertemu dengan Nu'aim bin Abdulah yang memberitahukan kalau adiknya, Fathimah dan suaminya telah memeluk Islam. Nu'aim menyarankan agar ia mengurus kerabatnya sendiri saja, sebelum mencampuri urusan orang lain. Karena itu, tak heran jika kemarahan Umar itu tertumpah kepada keluarga adiknya ini.

Sebenarnya Sa'id melihat bahaya yang tampak dari sorot mata Umar. Tetapi keimanan yang telah merasuk seolah memberikan tambahan kekuatan yang terkira. Bukannya menolak tuduhan, ia justru berkata, "Wahai Umar, bagaimana pendapat anda jika kebenaran itu ternyata berada di pihak mereka ?"

Mendengar jawaban itu, Umar langsung menerkam Sa'id, memutar kepalanya kemudian membantingnya ke tanah, setelah itu Umar menduduki dada Sa'id. Sepertinya Umar ingin memberikan pukulan pamungkas untuk Sa'id, seperti kalau ia mengakhiri perlawanan musuhnya ketika sedang berduel di pasar Ukadz. Fathimah adiknya itu mendekat untuk membela suaminya, tetapi ia malah mendapat tinju keras dari kakaknya Umar di wajahnya sehingga terjatuh dan darah mengalir dari bibirnya. Keadaan Sa'id sangat kritis, ia bukan lawan duel sebanding dengan Umar, dan ia hanya bisa pasrah jika Umar akan menghabisinya.

Tetapi tiba-tiba terdengar pekikan keras istrinya, Fathimah. Bukan ketakutan, tetapi pekikan perlawanan dan permusuhan dengan penuh keberanian, "Hai musuh Allah, kamu berani memukul saya karena saya beriman kepada Allah! Hai Umar, perbuatlah yang kamu suka, karena saya akan tetap bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasullulla!"

Umar tiba - tiba tersentak bagai disengat listrik,umar terkejut dan heran. Umar bin Khaththab seakan tak percaya melihat wanita lemah ini, yang tidak lain adiknya sendiri berani menentangnya. Tetapi justru dari keheranan dan ketidak-percayaannya ini, amarahnya menjadi reda, dan kemudian menjadi titik balik ia memperoleh hidayah dan akhirnya memeluk Islam.

Sebagaimana sahabat-sahabat yang memeluk Islam pada masa awal, Sa’id bin Zaid merupakan sosok yang banyak menghabiskan waktunya untuk beribadah, seorang alim yang sangat zuhud. Hampir tidak pernah tertinggal dalam berbagai pertempuran dalam menegakkan panji-panji keimanan. Ia tidak mengikuti perang Badar, karena saat itu ia ditugaskan Nabi SAW untuk tugas mata-mata ke Syam bersama Thalhah bin Ubaidillah. Tetapi beliau menetapkannya sebagai Ahlul Badr dan memberikan bagian ghanimah dari perang Badar, walau secara fisik tidak terjun dalam pertempuran tersebut. Ada tujuh sahabat lainnya seperti Sa'id, tidak mengikuti perang Badar, tetapi Nabi SAW menetapkannya sebagai Ahlul Badr.

Sa'id juga termasuk dalam kelompok sepuluh sahabat yang dijamin oleh Nabi SAW akan masuk surga dalam masa hidupnya. Sembilan sahabat lainnya adalah, empat sahabat Khulafaur Rasyidin, Abdurrahman bin Auf, Sa'd bin Abi Waqqash, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah dan Abu Ubaidah bi Jarrah R.Hum.

Sa'id sempat mengalami masa kejayaan Islam, di mana wilayah makin meluas dan makin banyak lowongan jabatan. Sesungguhnyalah ia pantas memangku salah satu dari jabatan-jabatan tersebut, tetapi ia memilih untuk menghindarinya. Bahkan dalam banyak pertempuran yang diterjuninya, ia lebih memilih menjadi prajurit biasa. Dalam suatu pasukan besar yang dipimpin oleh Sa'd bin Abi Waqqash, setelah menaklukan Damaskus,Sa'd menetapkan dirinya sebagai wali negeri/gubernur di sana. Tetapi Sa'id bin Zaid meminta dengan sangat kepada komandannya itu untuk memilih orang lain memegang jabatan tersebut, dan mengijinkannya untuk menjadi prajurit biasa di bawah kepemimpinannya. Ia ingin terus berjuang menegakkan kalimat Allah dan panji-panji kebenaran, suatu keadaan yang tidak bisa dilakukannyan jika ia memegang jabatan wali negeri.

Seperti halnya jabatan yang dihindarinya, begitu juga dengan harta dan kemewahan dunia. Tetapi sejak masa khalifah Umar, harta kekayaan datang melimpah-ruah memenuhi Baitul Mal (Perbendaharaan Islam), sehingga mau tidak mau, sahabat-sahabat masa awal seperti Sa’id bin Zaid akan memperoleh bagian juga. Bahkan khalifah Umar memberikan jatah (bagian) lebih banyak daripada bagian sahabat yang memeluk Islam belakangan, yaitu setelah terjadinya Fathul Makkah. Namun, setiap kali ia memperoleh pembagian harta atau uang, segera saja ia menyedekahkannya lagi, kecuali sekedarnya saja.

Namun dengan cara hidupnya yang zuhud itu, masih juga ada orang yang memfitnah dirinya bersikap duniawiah. Peristiwa itu terjadi pada masa pemerintahan Muawiyah, ketika ia telah menghabiskan sisa hidupnya hanya untuk beribadah di Madinah. Seorang wanita bernama Arwa binti Aus menuduh Sa’id telah merampas tanah miliknya. Pada mulanya Sa’id tidak mau terlalu perduli atau melayani tuduhan tersebut, ia hanya membantah sekedarnya dan menasehati wanita itu untuk tidak membuat kedustaan. Tetapi wanita itu tetap saja dengan tuduhannya, bahkan ia melaporkan kepada gubernur Madinah.

Marwan bin Hakam, gubernur Madinah yang masih paman dari Muawiyah, atas laporan Arwa bin Aus itu memanggil Sa’id untuk mempertanggung-jawabkan tindakannya. Setelah menghadap, Sa’id membantah tuduhan itu, ia berkata, “Apakah mungkin aku mendzalimi wanita ini (yakni merampas tanahnya), sedangkan aku mendengar sendiri Rasulullah SAW bersabda : Barang siapa yang mendzalimi seseorang dengan sejengkal tanah, maka Allah akan melilitnya dengan tujuh lingkaran bumi pada hari kiamat kelak!!”

Sa’id memang meriwayatkan beberapa hadits Nabi SAW, termasuk hadits yang dijadikan hujjahnya itu. Ada hadits senada lainnya yang juga diriwayatkannya, yakni : Barang siapa yang berbuat dzalim terhadap sejengkal tanah, maka akan dikalungkan kepadanya tujuh lapis bumi, dan barang siapa yang terbunuh karena membela hartanya, maka ia mati syahid.

Kemudian Sa’id berbalik menghadap kiblat dan berdoa, “Ya Allah, apabila dia (wanita itu) sengaja membuat-buat kebohongan ini, janganlah engkau mematikan dirinya kecuali setelah ia menjadi buta, dan hendaklah Engkau jadikan sumurnya sebagai kuburannya…!!”

Beberapa waktu kemudian Arwa binti Aus menjadi buta, dan dalam keadaan seperti itu ia terjatuh ke dalam sumur miliknya sendiri dan mati di dalamnya. Sebenarnya saat itu Sa’id berdoa tidak terlalu keras, tetapi beberapa orang sempat mendengarnya. Mereka segera saja mengetahui kalau Sa’id bin Zaid dalam kebenaran, dan doanya makbul. Namanya dan kebaikannya jadi semakin dikenal, dan ia banyak didatangi orang untuk minta didoakan.

Seperti halnya jabatan dan harta kekayaan, popularitasnya juga tidak disukai oleh Sa’id bin Zaid ini. Walaupun ia sebagai sahabat as sabiqunal awwalun, selalu berjuang dan berjihad di jalan Allah setiap kali ada kesempatan, dan menghabiskan waktu dengan ibadah ketika sedang ‘menggantungkan pedang’, bahkan telah dijamin masuk surga oleh Rasulullah SAW ketika masih hidup bersama (hanya) sembilan sahabat lainnya, tetapi ia tidak terlalu menonjol dan terkenal dibanding sahabat-sahabat lainnya yang memeluk Islam belakangan, seperti misalnya Khalid bin Walid, Amr bin Ash, Salman al Farisi dan lain-lainnya.

Hal ini terjadi karena ia memang lebih suka ‘menyembunyikan diri’, lebih asyik menyendiri dalam ibadah bersama Allah, walau secara lahiriah ia berada di antara banyak sahabat lainnya. Setelah peristiwa dengan Arwa bin Aus dan banyak orang yang mendatangi dirinya, Sa’id merasa tidak nyaman.

Apalagi kehidupan kaum muslimin saat itu, walau tinggal di Madinah, tetapi makin banyak saja yang ‘mengagung-agungkan’ kemewahan dunia. Jejak kehidupan Nabi SAW dan para sahabat masa awal, baik dari kalangan Muhajirin ataupun Anshar, yang selalu sederhana dan zuhud terhadap dunia sedikit demi sedikit mulai memudar. Karena itu Sa’id pindah ke daerah pedalaman, yakni di Aqiq, dan ia wafat di sana pada tahun 50 atau 51 hijriah. Tetapi jenazahnya dibawa pulang ke Madinah oleh Sa'd bin Abi Waqqash dan Abdullah bin Umar, keponakannya sendiri, kemudian dimakamkan di Baqi, di antara beberapa sahabat Rasulullah SAW lainnya..

Belajar dari kisah diatas marilah kita meneladani beliau yang sangat zuhud serta sangat berani tersebut demi, semoga kita termasuk dalam kategori hamba - hamba allah yang mempunyai sikap zuhud amin

Kamis, 18 Mei 2017

Begini Syarat agar Allah Mengubah Nasib Kita

Begini syarat agar allah mengubah nasib kita



Rafeyfa.com - Kehidupan yang kita jalani terkadang,melewati banyak rintangan yang membuat kita patah semangat untuk terus bermimpi walaupun hanya sekedar bermimpi mengejar cita - cita,menjadi orang kaya,atau pun mendapat jabatan yang kita ingin akan tetapi kita merasa terkadang mengapa allah tidak kunjung mengabulkan doa doa kita.

Sebenarnya ada beberapa faktor yang menyebabkan doa yang kita panjatkan kepada allah tidak kunjung dikabulkan,sebenarnya ini terkadang hanya soal tidak sabar,Malas beribadah,dan tidak mau menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya,sebenarnya hanya sesederhana itu saja masalahnya.

Terkadang syaitan memberi kita bisikan yang membuat kita was - was seperti "Orang yang beriman itu hidupnya akan susah" padahal sebenarnya itu demi allah BOHONG semuanya.

Demi allah orang yang beriman itu hidupnya bahagia,tenang,insaallah bisa mendapatkan semua hal yang berbau duniawi,Allah sudah janjikan semua itu.Tidak mungkin salah!

Kita ambil contoh orang - orang yang hidup di timur tengah mereka allah karuniakan dengan kekayaan & sumber daya sangat melimpah seperti minyak bumi dan bahan tambang lainnya.

Banyak juga orang - orang indonesia & orang - orang di asia tenggara yang beriman kepada allah dan telah allah bahagiakan hidupnya dengan kekayaan duniawi.

Kita jumpai juga banyak orang - orang indonesia dan orang asia tenggara yang pergi umroh,artinya apa? ya artinya mereka mampu untuk pergi ke tanah suci mekah dengan harta yang diberikan oleh Allah SWT.

Ingat! bukan berarti saat kita sulit berarti allah tengah menyiksa kita/allah memberi kita hukuman,Tapi Anda yang harus berubah!

Allah berfirman dalam QS 13:11 :

 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” 

Maksud dari ayat ini adalah kata sebagian ulama yaitu Kalau seorang muslim memohon,merengek,menangis,mengadu kepada allah dan meminta apapun itu sekalipun kita meminta menjadi Raja didunia ini insaallah akan dikabulkan oleh allah asal ia mau mengubah dirinya (Jiwanya).

Insaallah Allah akan membukakan peluang - peluang untuk mencapai apa yang kita pinta dalam doa selama ini.

Allah akan mencukupkan kebutuhan seorang hamba manakala seorang hamba telah berkata Sudah cukup saya begini.

Misalnya : 
ada seorang pekerja kantoran yang mempunyai gaji 2 juta,dan dia berkata alhamdulilah rejeki yang diberikan cukup untuk kami sekeluarga,maka allah akan cukupkan dia dengan itu saja.

Dan juga apabila anda merengek,menangis meminta yang lebih dari pada yang anda dapatkan sekarang,Insaallah Allah juga akan kasi,tapi perlu diperhatikan semua itu perlu proses karena kita hidup didunia pasti melalui proses yang harus kita lalui.

Kata Umar bin abdul aziz rahimahullah berkata seperti :
"Sungguh saya ini memiliki pribadi yang sangat thumuh"

Thumuh itu adalah sifat (Obsesi) manusia yang selalu ingin mendapatkan segala sesuatu yang terbaik dalam hidupnya.

Umar saat menjadi rakyat biasa seperti kita senantiasa selalu berdoa kepada allah agar ia bisa menjadi gubernur madinah.

Dan beliau mengatakan saya terus menerus berdoa seperti itu disetiap sholat fardhu dan sholat malam sampai allah kabulkan aku menjadi gubernur madinah

Kemudian beliau berkata setelah saya menjadi gubernur madinah saya memiliki antusias agar suatu hari bisa menjadi seorang khalifah dan saya terus berdoa kepada allah,meminta kepada allah agar menjadikannya seorang khalifah walaupun sebenarnya ia tau bahwa ia tidak bisa menjadi seorang khalifah kalau mengikuti sesuai jalur keturunan karena semestinya ada orang lain yang akan menduduki yang sesuai jalur keturunan,tetapi ajaibnya khalifah sebelumnya rupanya telah menulis sebuah surat bahwasanya nanti yang akan menggantikan saya menjadi khalifah adalah umar bin abdul aziz.

Beliau mengatakan saya mendapatkan semua itu dengan thumuh saya,dengan antusias saya,dan saya mohon kepada allah dan allah kasi.

Tapi itu umar bin abdul aziz,bagaimana dengan kita? 
Beberapa pertanyaan pun muncul tentang :
  • Bagaimana kedekatan kita kepada allah swt?
  • Betapa seringnya kita merengek  meminta segala hal yang kita inginkan dalam doa doa kita kepada allah?
Kalau kita merasa bahwa kita sudah merasa dekat dengan allah,dan telah setiap hari meminta kepada allah,berarti yang perlu kita lakukan hanyalah bersabar dan terus berusaha.

Karena disaat kita memohon sesuatu logika nya kita sudah memulai start nya dan allah sudah siapkan garis finish nya,tinggal kita sabar dan terus berusaha sampai ke garis finish.

Banyak orang yang berdoa baru juga nyampai pertengahan sudah berhenti dengan alasan mungkin ini adalah kehendak allah dan sudah garis nya sudah seperti ini.

Percayalah itu sebenarnya hanya fase dimana allah mau melihat dulu betapa seriusnya anda untuk mengejar impan anda,rasionalnya kira - kira  begini :

Kalau kita daftar kuliah S1 pasti kita sudah mempunyai prediksi bahwa normalnya orang yang kuliah S1 itu lulusnya itu 4 tahun. ada semester 1 sampai 8 kita sudah tau kan? nah kalau semisal kita sudah berhenti pada semester 4 apakah keinginan kita untuk dapat gelar S1 tercapai?

Nah begitulah kurang lebih perumpaan orang yang berdoa,pasti sebelum kamu berdoa kamu tau prediksi tentang impian mu itu dan kalau belum apa - apa sudah berhenti ditengah jalan lalu berhenti berharap,apakah layak kita memvonis bahwa allah lah yang sengaja tidak mengabulkan doa kita?

Intinya kita harus senantiasa bersabar dan berusaha serta senantiasa berdoa sampai pada saaatnya kita mencapai finishnya,insaallah kita pasti akan mendapat apa yang kita inginkan tapi lain halnya kalau orang terburu - buru dan tidak sabaran untuk mencapai apa yang ia impikan pasti lah ia akan gagal.

Maka dari itu sebenarnya kita disarankan untuk Tamak terhadap rahmat allah,allah menyarankan kita agar terus menerus berdoa sampai allah mengabulkannya,jangan pernah pesimis berpikirlah selalu positive terhadap allah.

Sampai -sampai Nabi muhammad SAW berkata seperti ini untuk memotivasi kita:
"Kalau ada ditangan kalian sebuah bibit pohon,dan dia tau bahwa besok kiamat maka tetaplah harus dia tancapkan"

"Kalau kalian minta surga,mintalah surga firdaus,surga yang tertinggi"

Jangan bilang amal kita tidak cukup untuk bisa bermimpi agar bisa masuk surga firdaus,kita hanya disuruh berdoa dan tamak terhadap rahmat allah.

Apakah susah bagi anda untuk sekedar mengucapkan beberapa patah kata sebuah impian yang terbaik disetiap sholat kita,kemudian berusaha sebisa mungkin mewujudkannya dengan kemampuan yang kita miliki?

Nah mulai sekarang berubahlah,jadilah orang yang optimis,jangan pernah berputus asa dari rahmat allah.
Ingat saja rumus ini :

Impian tertinggi + Berusaha + Berdoa = Kenyataan

Sekian dulu pembahasan kita kali tentang syarat agar allah mengubah nasib kita semua,silahkan tinggal kesan,komentar atau saran yang bermanfaat bagi kebaikan kita bersama.